Artwork by Dickinson showing the face of oil imperialism
(Source: reasonstorevolt)
Artwork by Dickinson showing the face of oil imperialism
(Source: reasonstorevolt)
Artwork by @JammiArt showing how corporations want mindless, uncritical, workers
(Source: reasonstorevolt)
Work of mourning..di rmh „„mb @yanita…turut berbelasungkawa mb… (Photo by tantok92)
Naya dan opera nina bobo’ george bizet. (Photo by tantok92)
BAGI perempuan karier seperti Ira Surjaman, berusia 33 tahun, bedak bukan hanya untuk kecantikan tapi juga kesehatan. “Karena bedak bisa melindungi kulit dari debu dan sinar matahari,” ujar karyawati swasta yang berkantor di bilangan Jalan Sudirman, Jakarta, kepada MHO.
Bedak menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan orang-orang di berbagai bangsa selama berabad-abad. Awalnya, orang menggunakan bedak bukan untuk tujuan keindahan tapi lebih karena alasan spiritual. Membalur tubuh dengan bedak dianggap bisa menjauhkan diri dari roh-roh halus. Orang-orang Timur Jauh menggunakannya khusus untuk acara pernikahan atau pertemuan lainnya. Baru setelah Ratu Cleopatra menggunakannya sebagai lapisan dasar kosmetik, fungsi estetis bedak lebih menonjol.
Cleopatra sangat peduli dengan penampilan. Selain ahli parfum, dia punya perhatian besar terhadap bedak. Dia menggunakan beragam bahan, beberapa di antaranya sangat eksotis. Mungkin yang “terhebat” adalah kotoran buaya, yang dia buat menjadi bubuk halus.
Bangsa Mesir umumnya membuat bedak dari campuran kapur dan tanah liat. Namun dalam jumlah yang lebih sedikit, mereka menambahkan timah putih. Penggunaan timah putih juga umum di Dunia Timur maupun Barat kuno. Penggalian arkeologis situs Mesir Kuno, Lembah Sungai Indus, makam Yunani, serta makam Dinasti Chin dan Han di China, membuktikannya.
Sebelum Mesir, orang-orang Sumeria menggunakan bunga ochre kuning untuk bedak wajah. Mereka menamai bedak itu “golden clay” atau “face bloom”. Orang-orang Mesopotamia lalu meneruskan kebiasaan leluhurnya ini dengan sedikit modifikasi. Mereka menggunakan ochre merah atau daun pacar (henna). “Bangsa Mesir kurang liberal dengan bedak mereka,” tulis Robert James Forbes, ahli kimia-cum-sejarawan sains asal Belanda, dalam Studies in Ancient Technology, Vol. 8., “meski gambar-gambar yang ada menunjukkan bahwa perempuan kuno Mesir sangat paham bagaimana menggunakan kain pemoles bedak.”
Berbeda dari bangsa Mesir, orang-orang Timur Jauh (China, Jepang, dan sekitarnya) umumnya menggunakan bahan tepung beras. Setelah itu, artis zaman Dinasti Tang memakai bedak yang terbuat dari mutiara sebelum naik panggung untuk melindungi dan mempercantik kulit. Kaisar Dowager dari Dinasti Ching lalu mengikutinya jauh setelah itu. Bangsa Yunani dan Romawi, kemudian dilanjutkan Eropa, membuat bedak dari gandum. Meski penggunaan bedak mulai meluas, ia masih terbatas di kalangan orang kaya atau bangsawan.
Penggunaan bedak menentukan status sosial. Warna kulit, dalam banyak budaya, menjadi pembeda strata masyarakat. Orang Mesir –dan banyak bangsa lainnya– sangat menghormati mereka yang berkulit putih. Dalam anggapan mereka, perempuan putih berarti tak keluar rumah untuk bekerja di bawah terik matahari yang menyengat. “Di Asia, kulit putih dijadikan tanda kebangsawanan, anggota golongan elit, dan warna putih merupakan simbol murni kecantikan diri dan keningratan,” tulis LUXemag, majalah gaya hidup.
Penggunaan beras sebagai bahan pembuatan bedak sempat membuat persediaan beras menurun pada abad ke-15. Namun itu tak menghalangi orang-orang kaya untuk berdandan. Bahkan seabad kemudian, beras dan terigu menjadi inti dari mode dan gaya hidup di Prancis, Spanyol, dan Inggris. Para perempuan ningrat menaburkan banyak bedak ke wajah, tangan, dan bahu untuk menyembunyikan cacat di kulit atau membuatnya terlihat lebih muda dan segar.
Campur-tangan penguasa membuat pamor bedak meredup pada akhir abad ke-18. Penguasa Prancis, lalu diikuti negara Eropa lainnya, melarang pembuatan bedak untuk menghemat terigu atau beras –yang didapatkan dari perdagangan dengan dunia Timur. Ratu Victoria juga sempat melarangnya karena menganggapnya vulgar. Kala itu bedak juga merupakan aksesori utama para pelacur. Bedak mulai meraih popularitasnya kembali di awal abad ke-20.
Bedak dengan wujud seperti sekarang diciptakan di Prancis. Bahan dasarnya talk tanpa campuran timah yang bisa mengiritasi kulit. Hampir bersamaan, dan ini menarik, Anthony Overton meluncurkan bedak pertama untuk orang Afro-Amerika dengan merek High Brown Brand –kala itu orang kulit putih masih melarang orang kulit hitam menggunakan bedak. Pada 1923, perusahaan Inggris Laughton & Sons menciptakan wadah bedak kompak yang nyaman, lengkap dengan sponsnya. Jeda beberapa saat, penata gaya legendaris Hollywood Max Factor meluncurkan bedak dasar yang bisa digunakan setiap hari, Pan Cake. Lalu, Helena Rubinstein membuat bedak murah pada awal 1940-an dengan merek yang menggunakan namanya.Bedak dengan fungsi lebih spesifik juga bermunculan. Perusahaan Johnson & Johnson (J&J), yang awalnya tak sengaja terjun di segmen ini, mengembangkan dan meraih keuntungan dari bedak bayi.
Konsumsi bedak terus meningkat. Di Amerika Serikat, menurut sejarawan Gary Dean Best, sebagaimana ditulis Brian Greenberg dan Linda S Watt dalam Social History of the United States, Vol. 1, pada akhir 1920-an saja perempuan Amerika tiap tahunnya menggunakan 4.000 ton bedak. Itu belum termasuk produk kosmetik lainnya.
Kini, bedak menjadi bagian tak terpisahkan dari hampir setiap orang, terutama perempuan. Di dalam ataupun di luar rumah, dengan santai atau terburu-buru, perempuan membedaki wajah menjadi pemandangan yang familiar. [MF MUKTHI]
MASHADI, petani asal Desa Pandansari, Brebes, Jawa Tengah, pusing dan gelisah. Dia mengeluhkan perubahan iklim dan gejala-gejala cuaca ekstrem yang membuatnya kesulitan menentukan waktu menanam bibit. Sejak dulu dia mempraktikkan pranata mangsa, ajaran orangtua dalam hal bercocok-tanam yang tak sebangun dengan penanggalan Masehi. “Tapi sekarang, susah juga ditebak, kapan musim hujan datang,” ujar Mashadi.
Mashadi hanya contoh kecil dari banyak petani tradisional yang nasibnya kian sulit akibat perubahan iklim. Perhitungan berdasar pranata mangsa kerap meleset.
Sebelumnya, eksistensi pengetahuan tradisional ini juga terpinggirkan oleh kemajuan teknologi pertanian. Rekayasa genetika yang mampu melahirkan bibit-bibit jenis baru, beragam pupuk, serta peralatan modern membuat sistem pranata mangsa seperti tak punya masa depan. Hitung-hitungannya melulu soal produktivitas.
Pranata mangsa dalam bahasa Indonesia berarti “pengaturan musim”. Sistem penanggalan ini dipercaya telah ada sebelum kedatangan orang Hindu ke Nusantara, dan ikut menyumbang bagi khazanah keagungan kerajaan-kerajaan besar di Jawa. Ia kemudian menjadi pengetahuan turun-temurun yang dimiliki petani Jawa. Hal ini coba diperingati kembali dalam buku Pranata Mangsa, yang termasuk dalam Seri Lawasan. Sebelumnya dalam seri ini telah diterbitkan Phit Onthel serta Uang Kuno.
Dalam sistem pranata mangsa, penanggalan musim didasarkan pada tahun surya yang panjangnya 365 hari. Menurut N. Daldjoeni, sebagaimana dikutip Sindhunata dalam buku ini, dalam pranata mangsa terdapat pertalian mengagumkan antara aspek kosmografi dan bioklimatologi yang mendasari kehidupan masyarakat tani. Perhitungannya tak kalah rumit dengan penanggalan Mesir kuno, China, Maya, dan Burma. Sistem penanggalan ini kemudian dibakukan oleh Sri Susuhunan Paku Buwana ke-VII di Surakarta pada 22 Juni 1856.
Pranata mangsa membagi periode setahun dalam 12 mangsa, yaitu kasa, karo, katelu, kapat, kalima, kanem, kapitu, kawolu, kasanga, kasapuluh, dhesta, dan saddha. Panduan dari tiap mangsa adalah bintang, yang masing-masing menandai awal dan akhir suatu mangsa. Karena itu, pengetahuan dan pengamatan rasi bintang secara konsisten merupakan perilaku yang inheren dalam kehidupan para petani tradisional di Jawa. Namun, selain bagi petani, sistem penanggalan ini juga dipakai sebagai pedoman perantau, pedagang, nelayan, bahkan untuk berperang dan menjalankan pemerintahan.
Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat menjadikan pranata mangsa sebagai panduan untuk menyikapi keadaan iklim. Sebagai contoh, jika orang mulai menanam palawija pada mangsa kasa, maka pada mangsa katelu, saat kemarau dan paceklik memuncak, palawija dapat dipanen. Pranata mangsa juga mengajarkan petani untuk tidak terburu-buru mengolah sawah meski puncak kemarau pada mangsa katelu telah lewat. Untuk menunggu saat tepat, yakni mangsa kanem, mereka menanam padi gogo terlebih dulu.
Salah satu hal yang membuat sistem pranata mangsa kian tak populer adalah anggapan bahwa sistem penanggalan ini berlandaskan mistisisme. Memang benar bahwa filosofi pranata mangsa kental dengan nuansa spiritualitas khas Jawa. Pranata mangsa dilandasi pandangan bahwa alam bukanlah lawan yang harus ditaklukkan tapi teman yang memberi berkah dan mesti dicintai. Etika ini bertujuan untuk menginternalisasi perilaku yang juga diyakini masyarakat modern, yakni mengajarkan petani untuk merancang kehidupan ekonomi dengan cara berhemat.
Perhitungan pembagian mangsa dalam pranata mangsa sendiri sebetulnya bersumber dari pengamatan pergantian iklim yang bersifat observatif. Artinya, bersifat rasional juga. Hal ini dapat dilihat dari contoh-contoh kongkret dan detail dalam menggambarkan watak tiap-tiap mangsa. Dalam mangsa kasa, misalnya, digambarkan bahwa iklimnya kering, daun-daun berguguran, belalang mulai membuat liang dan bertelur.
Hal lain yang termasuk dalam wahana pranata mangsa adalah pengetahuan jenis-jenis hama yang menyerang tanaman, berikut karakter, periode kemunculannya, serta ciri-ciri tanaman yang terserang. Hama ganjur, misalnya, digambarkan serupa nyamuk namun tak kuat terbang, sehingga penyebarannya terbatas. Hama jenis ini menyerang padi yang penanamannya terlambat. Ganjur meletakkan telur pada kelopak daun padi, kemudian menetaskan larva yang masuk ke batang padi. Serangan ini akan membunuh padi karena proses fotosintesisnya terganggu.
Sebagaimana Seri Lawasan lainnya, buku Pranata Mangsa ini dilengkapi beberapa cerita pendek dan cerita rakyat dari beberapa daerah yang terkait dengan tetumbuhan, terutama padi. Selain itu, buku ini memuat jenis-jenis hama padi dan peralatan pertanian tradisional. Buku dibuka dengan syair “Sri, Isenana Ajangku” karya Sindhunata yang dibuat berdasarkan lagu “Sri Minggat” ciptaan Sonny Josz. Syair itu mewakili jeritan hati Mashadi dan para petani lain yang tergerus perubahan iklim: jagad kaya ketiban sukerta / merga tumindak srakahing manungsa / sindhung riwut udan salah mangsa / pari-pari mati dipangan ama Kala Genja / Sri, kapan kowe bali. [AHMAD MAKKI/KONTRIBUTOR]
http://www.majalah-historia.com/berita-536-tradisi-pengetahuan-yang-digerus-zaman.html
Hakim : jadi anda pernah bb an dengan rosa….?
angie : tidaak…..
Hakim : telepon …?
angie : tidaak
Hakim :kenapa bisa begituu…?
angie :aku ngak punyaa pulsaaaaaa…..